Perkenalkan,
saya Danang Ambar Prabowo. Mahasiswa tingkat akhir Departemen Ilmu dan
Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian
Bogor. Saat ini, saya tengah menempuh student exchange program di
Utsunomiya University, Jepang, selama 1 tahun di bawah laboratorium
Biokimia dan pusat riset genetikanya.
Di luar
aktivitas akademis, saya turut aktif dalam kegiatan dakwah tarbiyah di kampus
dan juga beberapa organisasi yang peduli terhadap edukasi dan lingkungan dalam
skala lokal, nasional, maupun internasional. Selain itu saya juga menaruh minat
dan mendalami olahraga beladiri, fotografi, dan pengembangan sumberdaya manusia
secara profesional.
Salah satu
cita-cita besar yang kini tengah saya perjuangkan adalah meraih Nobel atau
penghargaan internasional lainnya demi keharuman bangsa Indonesia di mata dunia
dan juga demi dakwah. Tak ada yang tak mungkin saya wujudkan dari sebuah mimpi,
selama hal tersebut terus saya perjuangkan dalam keridhoan Allah. Pun semua
yang saya raih saat ini mulanya hanyalah mimpi-mimpi yang saya tuliskan di atas
kertas usang dan mulanya begitu banyak yang mentertawakan dan mencemoohnya.
Karena saya
menyadari bahwa masa depan yang cerah ditentukan dari pilihan dan tindakan
strategis apa yang kita ambil saat ini dan bukan sekedar sesuatu yang terjadi
secara kebetulan semata. Maka dengan menyadari hal tersebut, insya Allah akan
kita pahami bahwa setiap detik yang kita miliki sangatlah teramat sayang jika
dilewati tanpa torehan prestasi.
Melalui
Mendiknas dan Dirjen Dikti, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan saya
sebagai Mahasiswa Berprestasi (Mawapres; dahulu mahasiswa teladan) Terbaik 1
tingkat nasional tahun 2007. Dan melalui tulisan ini, saya ingin mengajak Anda
semua menyadari hakikat dasar bahwa setiap diri Anda adalah pribadi yang penuh
prestasi dalam bidang Anda masing-masing. Dan dengan itu saya berharap Anda
mampu mewujudkan impian-impian Anda.
Maka saatnya
kini mengukir prestasi dengan gilang gemilang dan menyongsong masa depan yang
paling cerah!
Saya akan
memulai dari tiga pertanyaan sederhana yang sering diajukan kepada saya dalam
berbagai kesempatan diskusi.
1. Apa makna
prestasi dan penghargaan menurut saya?
Pertama,
yang perlu dicatat bahwa pendapat saya ini bukanlah yang terbaik apalagi yang
paling benar. Namun saya berusaha akan memberikan penjelasan sesuai dengan pola
pikir saya dan beberapa masukan yang selama ini pernah saya dapatkan dari
sosok-sosok prestatif lainnya.
Prestasi
menurut saya secara umum adalah kewajiban akan sesuatu yang harus diraih oleh
setiap insan. Bahkan prestasi adalah kodrat setiap manusia yang pasti akan
diraihnya. Dimulai dari proses kelahiran Anda ke dunia, Anda sudah menjadi
ditakdirkan menjadi pemenang. Pernahkah berpikir bahwa saat itu Anda adalah
satu-satunya sperma dari sekian juta sperma yang berhasil membuahi sel telur
melalui perjuangan berat? Dan hasil dari perjuangan itu adalah Anda saat ini
yang tengah membaca tulisan saya ini. Anda adalah pemenang yang dilahirkan di
dunia. The Born Winner!
Maka jika
telah memahami dasar itu, kini saatnya Anda kembali bersiap untuk bersaing.
Karena bukan Anda saja satu-satunya manusia yang dilahirkan di dunia ini bukan?
Mereka yang terlahir ke dunia pun adalah pemenang. Nah, raihan prestasi (achievement)-lah
yang akan membedakan Anda sebagai pemenang diantara manusia-manusia pemenang
lainnya.
So… kita
mulai dengan memahami makna prestasi terlebih dahulu. Maka jika ditanya tentang
“apa itu prestasi?”, yang akan terbayang di benak setiap orang
pada umumnya secara spontan adalah sosok juara, entah itu juara kelas, ataupun
juara-juara lainnya yang berkaitan dengan nilai akademis. Demikian bukan?!
Tidak salah
memang yang demikian. Namun belum mencakup makna prestasi secara utuh. Juara di
kelas atau keberhasilan meraih nilai terbaik (sempurna) dalam ujian hanyalah
satu bagian dari perwujudan makna prestasi. Maka mulai dari sekarang hendaklah
kita perluas wawasan kita tentang makna prestasi.
Maka makna
prestasi secara khusus menurut saya adalah suatu pencapaian (achievement),
peningkatan (improvement), atau perubahan menuju sesuatu yang lebih baik
dari kondisi sebelumnya. Apapun itu, sekecil apapun itu, asalkan lebih baik
dari kondisi semula maka itu adalah prestasi. Contoh sederhananya:
Jika kemarin
Anda bangun sholat subuh 1 menit setelah adzan berkumandang, namun hari ini
Anda bangun 1 detik lebih cepat dari catatan waktu hari sebelumnya… itu adalah
prestasi! Meskipun hanya berbeda 1 detik. Karena Anda lebih baik dari hari
kemarin.
Hanya sayang
sekali sedikit dari kita yang menyadari itu dan kemudian berorientasi selalu
untuk mengejar prestasi yang besar-besar saja. Sekedar ingin cepat dikenal dan
tenar. Padahal, bukankah berpuluh tahun bangsa kita memiliki pepatah bijak: “sedikit
demi sedikit, lama-lama menjadi bukit”.
Cukup lama
saya memperhatikan secara langsung bagaimana bangsa Jerman dan Jepang yang
terkenal di dunia itu begitu menghargai pencapaian sekecil apapun dari usaha
orang lain. Saya masih teringat ketika duduk di bangku kelas 4 SD di Jerman,
ada seorang teman saya bernama Oliver yang memiliki sedikit keterbatasan mental
di banding teman-teman lainnya di kelas. Suatu hari di kelas melukis, guru seni
kami menugaskan kami untuk melukis pohon yang daunnya bewarna warni tatkala
musim gugur tiba. Tiba-tiba tanpa sengaja Oliver menumpahkan cat warna di atas
setengah kanvasnya hingga warnanya menjadi tak karuan. Saya dan teman asal
India mentertawainya karena kecerobohannya itu sementara sebagian anak-anak Jerman
ada yang memilih tetap diam atau membantunya.
Ketika guru
seni kami melihat kejadian itu, beliau menghibur Oliver dan menyemangatinya
untuk terus melukis di atas kanvas yang telah berlumuran cat warna itu.
Sementara saya dan teman dari India mendapat teguran untuk tak mentertawakan
teman yang tengah kesulitan. Dan tahukah Anda bahwa lukisan abstrak aneh Oliver
itulah yang di kemudian hari mendapat paling banyak pujian dari para pengunjung
pameran akhir tahun dan kelulusan angkatan saya tahun 1996. Meski Oliver
akhirnya tak bisa melanjutkan ke sekolah umum setelah tamat SD karena
keterbatasannya, namun saya dan saya yakin juga orang-orang yang hadir saat itu
akan selalu ingat bagaimana ekspresi Oliver ketika ia berkata di atas panggung:
“Ich bin
nicht wie euch, als normale leuten. Aber sicher diesmal kann ich tun es besser
als euch… (Aku tak seperti kalian yang normal. Tapi aku kali ini aku
bisa melakukannya lebih baik dari kalian)” sambil dengan penuh kebanggaan
menjunjung lukisan abstraknya, prestasinya itu. Dan sejak saat itu pula saya
berjanji untuk tak pernah lagi memandang rendah pencapaian seseorang
seberapapun itu.
Mungkin saya
mentertawakan Oliver saat ia menumpahkan cat di kanvasnya karena terbawa iklim
sosial Indonesia yang jarang menghargai pencapaian orang lain dalam kehidupan
sehari-harinya.
Lain Jerman
lain Jepang. Di negeri matahari terbit ini saya sangat sering mendengar orang
Jepang mengatakan kata “Sugoi” yang berarti hebat, keren, atau
menakjubkan dengan ekspresi penuh dan sungguh-sungguh. Sedikit-sedikit Sugoi…
ada anak TK bisa nendang bola: “Sugoi”, ada bocah kecil bisa nyanyi lagu
yang sama berulang-ulang meski belepotan, maka tak henti-hentinya saya
mendengar: “Sugoi!” dari orang-orang di sekitarnya. Dan begitu juga
teman di lab saya ketika saya mencoba berbicara dengan bahasa Jepang yang
amburadul…: Sugoi!!! Demikian budaya Jepang menyemangati orang lain untuk
selalu bisa lebih baik!
Kata lain
yang sering saya dengar juga adalah: “Oishi” (lezat atau enak untuk
makanan). Pernah teman saya membawa manisan khas Okinawa ke lab. Satu persatu
anak lab mencicipinya termasuk sensei. Maka bersahut-sahutanlah kata: “Oishi” bahkan
“Sugoi Oishi”bergema.
Ketika
giliran saya tiba mencicip… ternyata rasanya hambar malah aneh, namun demi
melihat wajah seluruh anggota lab menanti pendapat saya… maka saya pun berkata:
“Oishi!” maka sumringahlah wajah mereka. Dan sejak saat itu juga saya
belajar bahwa bangsa Jepang sangat menghargai makanan sedikit dan seenak (atau
tak seenak) apapun itu.
Dan secara
psikologis pula penghargaan sekecil apapun pada pencapaian sekecil apapun itu
akan memicu semangat positif untuk mencapai sesuatu yang lebih baik dari waktu
ke waktu.
Maka…
demikianlah makna prestasi dan penghargaan menurut saya. Sekecil apapun
kebaikan yang berhasil Anda raih saat ini, itu adalah prestasi Anda. Dan
semakin banyak yang menghargai prestasi Anda itu, akan semakin kuat semangat
berprestasi itu. Tapi jangan menunggu orang lain menghargai prestasi Anda itu.
Mulailah dari diri Anda sendiri…
Paling tidak
berteriaklah…:”Sugoi!!”
2.Mengapa
Saya Harus Berprestasi?
Insya Allah
saya telah menjelaskan makna prestasi menurut saya pada pembahasan sebelumnya.
Dan sangatlah penting memahami makna dasar prestasi sebelum kita menyusun
langkah-langkah jitu untuk menorehkan prestasi kita nantinya. Sekedar me-review bahwa
makna dasar prestasi menurut saya adalah:
“Pencapaian
(achievement), peningkatan (improvement), atau perubahan menuju sesuatu yang
lebih baik dari kondisi sebelumnya. Apapun itu, sekecil apapun itu, asalkan
lebih baik dari kondisi semula maka itu adalah prestasi.”
Nah…
sekarang kita telah memahami makna dasar prestasi. Lalu mengapa saya harus
berprestasi? Jawaban paling mudah yang bisa saya berikan secara spontan
adalah: “Agar saya bisa lebih bermanfaat bagi orang lain.”
Saya
kemudian menyadari satu hal yang penting, bahwa ketika saya bisa menjadi lebih
baik dari sebelumnya (berprestasi), secara langsung maupun tak langsung saya
turut memberikan dampak positif pada orang-orang di sekitar saya, selain
tentunya bagi saya sendiri. Dan itupun melibatkan pertimbangan matang untuk
mengambil keputusan secara tepat dalam kondisi diri optimal dan tenang.
Contoh
paling mudah yang pernah saya alami adalah ketika suatu sore saya datang
terlambat 10 menit ke latihan terpadu Taekwondo saat SMA dulu. Mulanya saya
menganggap keterlambatan saya itu sebagai hal biasa dan tak menjadi masalah
besar karena memang jarak dari rumah ke tempat latihan cukup jauh. Namun
ternyata 10 menit yang saya lewatkan tersebut adalah saat terpenting latihan
sore itu, karena di sanalah absensi penentuan siapa yang boleh ikut ujian
kenaikan tingkat bulan berikutnya ditentukan. Dan saya satu-satunya anggota
taekwondo yang tidak tercatat sebagai peserta ujian kenaikan tingkat tersebut.
Betapa kecewanya saya dengan keputusan itu.
Saya mencoba
melobi dengan berbagai alasan, namun kedisiplinan Sabeum (pelatih
taekwondo) saya saat itu tak bisa digoyahkan untuk mengubah daftar peserta hari
itu. Seolah latihan saya selama ini tak ada gunanya dan harus menunggu ujian
berikutnya yang tentunya masih sangat lama. Saya melewatkan latihan sore itu
tanpa semangat, apalagi mendengar percakapan teman-teman yang begitu bahagia
akan ikut ujian kenaikan tingkat bulan depan.
Di saat
itulah saya harus berani mengambil langkah penting dan jitu untuk kedepan.
Hanya ada dua pilihan: Keluar dari tim taekwondo SMA atau terus nekad latihan
meski harus berbeda sabuk dengan teman-teman satu angkatan yang berarti saya
harus siap menanggung malu sebagai satu-satunya anggota tim yang tak naik
tingkat, karena alasan sepele… terlambat datang saat latihan!
Alhamdulillah,
di kemudian hari setelah kejadian itu saya tetap memutuskan untuk terus latihan
taekwondo. Datang paling awal, menyapu lantai tempat latihan, menyiapkan
alat-alat latihan, dan lainnya. Meski di sisi lain saya menghadapi tekanan dan
rasa malu sebagai satu-satunya sosok yang tak akan ikut ujian, apalagi pelatih
saya seolah tak memperhatikan saya karena sibuk menyiapkan teman-teman yang
akan ikut ujian kenaikan tingkat.
Hingga di
suatu sore setelah latihan dan seminggu menjelang ujian kenaikan tingkat
dilaksanakan, pelatih senior saya memanggil saya dan berkata dengan bijak:
“Nang,
taekwondo itu bukan dinilai dari sabuk warna apa yang engkau kenakan. Kalau
sekedar ingin keren-kerenan memakai sabuk berwarna, yang hitam sekalipun, tak
perlu susah-susah latihan taekwondo atau ikut ujian kenaikan tingkat juga bisa,
mudah sekali malahan. Cukup beli sabuk di toko, terus kamu pakai saat latihan.
Tapi apakah kemudian sabukmu itu yang menjamin kamu paham dan bisa melakukan
teknik-teknik taekwondo? Enggak kan! Sabuk apa yang engkau pakai, akan ada
tanggung jawabnya. Cukuplah sabukmu tetap yang paling rendah tapi teknikmu
setingkat sabuk yang paling tinggi.
Sebenarnya
Sabeum hanya mau memberi pelajaran padamu bahwa apapun yang engkau lakukan itu
harus selalu penuh keseriusan dan kedisiplinan. Termasuk saat latihan taekwondo
ini. Sabeum ingin melihat apakah kamu bisa dan mau berubah menjadi lebih baik
atau justru menyerah setelah keputusan dahulu itu.”
Sejak saat
itulah tak ada lagi beban saat latihan taekwondo di kemudian hari bersama
teman-teman saya yang sabuknya setingkat lebih tinggi. Saya menyadari bahwa
saya harus selalu menjadi lebih baik setiap waktunya, sedikit apapun perubahan
itu, yang pasti harus lebih baik. Dan saya membuktikan satu tahun kemudian
setelah peristiwa itu, dari 30an anggota tim taekwondo SMA, saya adalah satu
dari dua orang yang berhasil meraih medali bagi tim SMA di Kejuaraan Daerah
Taekwondo tingkat Pelajar tahun 2002.
Ada
kebanggaan dan kepuasan tersendiri bagi saya pribadi ketika meraihnya, apalagi
setelah latihan panjang dan keras selama itu. Bagi orang di sekitar saya,
melalui prestasi yang saya raih itulah, kemudian saya bisa bermanfaat bagi
orang lain dengan turut aktif melatih anggota tim taekwondo SMA setelahnya. Tak
lupa saya selalu menyelipkan nasehat pelatih saya dulu tentang filosofi
taekwondo. Dan alhamdulillah di tahun-tahun berikutnya tim taekwondo SMA saya
dapat meraih lebih banyak medali bahkan hingga tembus ke kejuaraan nasional
sebagai salah satu pemenangnya.
Saya tak
menganggap bahwa saya satu-satunya sosok yang berperan atau berjasa di sana.
Pastinya banyak pihak juga yang tak kalah penting perannya. Namun yang saya
catat adalah ketika saya mampu berprestasi maka raihan prestasi saya itulah
yang menjadi bukti penguat ketika mengarahkan orang lain. Akan lebih sulit bagi
saya untuk menganjurkan kepada orang lain untuk melakukan ini dan itu dengan
tujuan agar mereka menjadi lebih baik jika saya sendiri tak pernah mampu
menjadi bukti itu sendiri.
Termasuk
juga dengan tulisan saya ini. Tentu Anda akan menganggap tulisan ini hanya
sebagai angin lalu, atau saya sekedar berteori semata jika saya sendiri tak
pernah mengalaminya sendiri. Maka jika saya bisa menjadi bukti konkrit itu
sendiri, insya Allah, apa yang saya sampaikan akan membuat Anda menjadi lebih
yakin bukan?!
Semakin
bagus prestasi Anda (ingat kembali makna dasar prestasi) akan semakin tinggi
kredibilitas dan nilai diri Anda di mata orang lain yang berarti akan semakin
luas jangkauan Anda untuk bermanfaat bagi orang lain.
Contoh lain
yang lebih menakjubkan adalah sosok Rasulullah, Muhammad SAW. Bagaimana
beliau benar-benar mengaplikasikan makna dasar prestasi dalam kehidupannya.
Setiap detik hidup beliau adalah tentang prestasi. Menjadi lebih baik dari
sebelumnya. Hingga sebelum diangkat menjadi Nabi atau menorehkan prestasi
sejarah secara gilang gemilang pun orang-orang di sekitarnya telah mengakui
keunggulan akhlaknya hingga ia dijuluki Al Amin (yang dipercaya). Maka perlahan
ia pun menjadi panutan dan teladan bagi orang-orang disekitarnya, dicintai dan
mencintai semua orang. Dan dari “prestasi” beliaulah kemudian beliau bisa
bermanfaat bagi orang lain. Hal itu tentu tak lepas dari apa yang beliau raih
yang kemudian menjadi teladan (bukti) bagi orang lain.
Dan di sisi
lainnya… tentu prestasi yang Anda raih merupakan wujud kesyukuran diri Anda
pada Allah karena Anda telah mau dan mampu mengoptimalkan apa yang telah Allah
berikan pada Anda untuk sesuatu yang baik.
Dengan
meraih prestasi pula berarti Anda mau menghargai waktu, diri Anda sendiri, dan
perjuangan orang lain yang tak lain dan tak bukan adalah kedua orang tua Anda.
Anda harus berprestasi karena itu adalah salah satu cara Anda membuktikan bahwa
apa yang sudah Anda pelajari dalam hidup ini ada hasilnya. Dan semua itulah
yang akan membawa anda menjadi yang akan diperhitungkan di masa depan.
Nah
demikianlah salah satu alasan sederhana mengapa saya dan juga Anda harus
berprestasi. Tentunya agar bermanfaat bagi diri Anda sendiri dan juga orang
lain dalam lingkungan di sekitar Anda.
Jadi mengapa
harus ragu lagi???… teriakkan dengan lantang:
“Setiap
detiknya, Saya harus berprestasi!!!”
Harapannya
adalah ada satu titik terang dalam diri Anda bahwa siapapun Anda… apapun latar
belakang Anda, dan bagaimanapun kondisi Anda… tak ada yang salah dengan itu
selama Anda mau dan mampu untuk terus bergerak menjadi lebih baik.
Saya
kutipkan sedikit inti dari E-Mail tersebut adalah sebagai berikut:
“…wah Mas
Danang sih enak. Latar belakangnya mendukung, keluarga juga tak ada masalah.
Selalu berkecukupan, baik dari kondisi Mas sendiri maupun dari kondisi
lingkungan di sekitar Mas. Udah bawaannya pintar dan cerdas. Jadi mau meraih
prestasi apapun juga mudah. Gak seperti saya Mas… Keluarga saya ( dia
menceritakan begini dan begitu…), orang desa yang pas-pasan pengetahuannya,
saya hidup berkecukupan, mau sekolah juga kadang harus banting tulang… Gimana
mau saya berprestasi dibanding anak-anak yang jauh lebih makmur hidupnya
dibanding saya… Mas sih enak bisa ngomong ini itu karena itu mudah bagi Mas…”
Saya
tersenyum membaca isi E-Mailnya… tapi bukan untuk meledek atau meremehkannya.
Mungkin sebuah senyum yang diperlihatkan oleh seorang kakak kepada adiknya
ketika mendengar curahan hatinya. Ketika hendak menekan tombol reply tiba-tiba
saya berpikir mengapa saya tidak mencoba berbagi hal ini di blog saja. Dengan
harapan tulisan saya tersebut akan bisa menjawab pertanyaan si pengirim email
dan juga sebagai materi share di blog ini.
Saya menjawab
E-Mailnya kurang lebih begini:
“Duhai
adikku sayang, saudara karena pertalian ukhuwah nan indah. Saya memahami apa
yang engkau rasakan ketika dirimu melihat bagaimana orang lain bisa mencapai
hal-hal terindah dalam mimpinya. Bisa mewujudkan apa yang ia cita-citakan
hingga semua orang suka padanya. Ia dikenal dimana-mana dan seolah ia adalah
bintang di tengah gemerlap malam.
Sementara
engkau merasa sebagai orang yang paling malang. Merasa tak pernah sedikitpun
mencicip indahnya mimpi-mimpimu. Merasa tak seorangpun mengenalmu atau tak
ingin mengenalmu. Jika engkau mengibaratkan dirimu dengan malam, engkau merasa
bukanlah bintang yang bersinar, namun engkau justru merasa sebagai titik hitam
yang tertelan oleh gelapnya malam.
Engkau
merasa hidupmu begitu penuh kesialan, tak ada kemakmuran, dan tak ada
keberuntungan. Yang engkau rasakan hanyalah kerja, usaha, dan banting tulang
penuh dengan ujian berat yang tak pernah berhenti. Hingga engkau begitu
menyalahkan apa yang sedang engkau miliki dan engkau dapatkan sekarang.
Saya paham
itu… karena saya pun pernah seperti dirimu. Merasa, merasa, dan hanya merasa…
selalu mendapat kesialan dan kepayahan. Maka izinkanlah saya sedikit
menceritakan diri saya dahulu.
Masa kecil
saya habiskan lebih banyak di desa terpencil. Selesai sekolah di SD yang kini
telah hampir tak ada murid yang mau sekolah di sana lagi itu, kegiatan saya
adalah bermain di sawah, mancing ikan, atau sekedar mengubek-ubek selokan untuk
mencari ikan bersama teman-teman. Maka jangan engkau bayangkan, duhai Adikku,
apakah aku kenal Nintendo, Playstation, atau mainan anak-anak kota lainnya.
Jika anak-anak kota punya mobil-mobilan tamiya maka bersama teman-teman kecilku
saya akan mencari pelepah pisang dan buah-buah kelapa kecil yang berjatuhan
untuk dibuat mobil-mobilan. Dan itupun saya senangnya bukan main.
Jika
anak-anak kota sudah menikmati siaran televisi di kamar keluarganya, maka saya
harus menunggu sampai listrik masuk ke desa saya saat kelas 2 SD. Mau nonton TV
pun saya harus ke kelurahan atau ke tempat orang yang dianggap kaya di desa,
dan itupun harus berjubel-jubel bersama anak-anak dan penduduk desa lainnya
hanya untuk nonton Si Unyil di minggu pagi atau terkadang Kstria Baja hitam di
selasa sore. Belum lagi jika musim hujan tiba… maka bersiap-siaplah saya untuk
menahan bau anyir dari lumpur-lumpur di kaki para “pengunjung” lainnya.
Bapak saya
lama tugasnya ke luar daerah untuk menghidupi Ibu, saya, dan adik-adik saya,
Berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Tapi saya tahu beliau
orang yang bertanggung jawab dan baik pada keluarga. Tapi jangan kira pula masa
kecil saya itu penuh dengan berbagai mainan atau barang-barang yang lazimnya
dimiliki oleh anak-anak seumuran saya. Saya masih ingat bagaimana Ibu saya selalu
marah ke saya kalau diajak jalan ke pasar kemudian saya lihat ada mainan
plastik murahan di emperan toko di perjualbelikan. Mungkin murah, Adikku,
mainan itu. Tapi sungguh tak pernah Ibuku membelikannya. Dulu saya selalu
berpikir saya adalah anak yang paling malang. Tapi bertahun-tahun kemudian saya
tahu bahwa yang beliau lakukan itu karena di satu pihak Ibu harus hemat,
sementara di sisi lainnya Ibu ingin mengajarkanku bahwa hidup itu butuh
kesabaran dan perjuangan keras, bukan sesuatu yang hanya sekedar di jalani dan
dilewati semata. Meskipun demikian Ibu saya sangatlah peduli dengan pendidikan
saya, saya kira itulah alasan mengapa ia tak ingin membuang-buang uang untuk
beli mainan tapi justru untuk biaya pendidikan. Tapi Ibu tak pernah bilang
demikian, yang ia bilang hanya… mainan tak selalu menyenangkan!
Saya lulus
kelas 6 SD dari sebuah sekolah dusun yang seolah tak dianggap di pedalaman
pinggiran kota Bengkulu, demikian benar adanya, Adikku. Ketika Allah berkenan
saya melanjutkan ke SMP favorit di kota itu sebagai satu-satunya lulusan SD
yang diterima di sana, awalnya begitu banyak yang mencemooh dan menganggap
remeh sosok lulusan SD kampung. Pun guru-guru saya di awal waktu SMP itu tak
mempedulikan saya dan teman-teman yang juga dari pinggiran kota. Namun salah
seorang teman saya itu justru mengatakan:
“Justru enak
Nang, kita tak diperhitungkan. Tak ada beban bagi kita untuk selalu menjadi
lebih baik. Santai aja lah…”
Dan benar
itulah yang teman saya itu kemudian wujudkan sesuai kata-katanya menjadi peringkat
teratas dari kelas 1 SMP hingga kelas 3 SMP favorit itu. Mengalahkan anak-anak
yang dulu lulusan terbaik SD kota. Sementara saya naik turun kondisinya selama
di sana.
Jangan kira
pula, Adikku, bahwa jalan saya selalu mulus. Saya pun pernah dapat nilai
terendah di salah satu mata pelajaran saat SMA. Meski sudah diberi kesempatan
untuk mengulang ujian lagi… tetap saja nilai saya rendah. Malu ya pasti. Bahkan
saya pernah panggil kepala sekolah SMA karena pakaian saya tak rapi dan harus
ditonton dihadapan dewan guru. Siapa yang tak malu bukan?
Namun satu
hal yang pasti Adikku, apa yang kita alami adalah pelajaran hidup yang selalu
berharga. Tak ada gunanya menyesali terlalu lama apa yang tidak kita
miliki. Karena tahukah bahwa apapun yang kita miliki atau apapun yang terjadi
pada kita… itu adalah yang terbaik. Jika engkau mampu selalu berpikir:
“Inilah yang
terbaik saat ini… namun aku harus lebih baik lagi”, Insya Allah engkau akan
melihat jalan itu.
Saya tak
selalu mendapatkan apa yang saya inginkan, tapi Allah selalu memberi apa yang
saya butuhkan. Saya pun pernah merasa sedih dan tertekan ketika apa yang saya
inginkan tak tercapai. Menyalahkan ini dan itu. Sama seperti dirimu saat ini.
Tapi akan saya beritahu padamu agar engkau tak terlalu berlanjut dalam kondisi
negatif ini…
“Itu semua
tak ada gunanya. Tak ada yang perlu disalahkan. Karena ingat itu adalah yang
terbaik. Mata kita tak secanggih “mata” Allah untuk melihat hikmah di balik itu
semua… maka segeralah bangkit. Tak ada kata terlambat untuk memulai”
Baik… jujur
saya pun mengakui bahwa Allah memberikan pengalaman hidup luar biasa untuk
melihat negeri-negeri lainnya. Ke Jerman maupun ke Jepang kemudian dalam hidup
saya. Itu bukan karena keluarga saya kaya sehingga saya bisa ke sana, tidak
benar demikian, insya Allah. Itu karena hasil perjuangan keras dan penuh
komitmen. Perjuangan seorang Bapak untuk terus mengejar impiannya menuntut ilmu
dan di sisi lain membahagiakan keluarganya, hingga Allah berkenan mengirimnya
sekolah di negeri itu. Dan juga sebuah perjuangan untuk bangkit dari seorang
anak daerah yang jika engkau mencoba tanyakan di mana letak Bengkulu itu, maka
akan lebih banyak yang diam daripada yang bisa menjawabnya.
Tapi
ingatlah pula… tak selamanya orang yang pergi keluar negeri adalah orang yang
“wah”. Tak sedikit pula yang hancur karena ia tak memiliki pendirian yang teguh
terhadap arus dunia luar. Maka bersyukurlah bahwa engkau masih di jaga Allah
dalam keluargamu. Dalam nuansa Indonesia yang penuh ukhuwah. Seindah-indahnya
negeri luar… jauh lebih indah negeri sendiri. Itu harus saya katakan padamu,
Adikku.
Baiklah…
jika penjelasan saya kurang bisa engkau terima, akan aku ceritakan satu sosok
lagi yang kuharap engkau mau mengambil teladan darinya.
Ia seseorang
yang Allah berikan cobaan sepanjang hidupnya. Sejak awal jejaknya ke dunia tak
ada satupun cahaya yang bisa ia lihat, karena Allah berkehendak menghijab
penglihatannya dari dunia yang sudah penuh dosa dan godaan ini. Iya, betul ia
buta Adikku.
Namun dengan
kebutaannya itu ia tak pernah berhenti untuk terus berjalan, meski jalan yang
ia lalui tak pernah ia ketahui seperti apa bentuknya. Dengan keterbatasannya
itu… maka jangan bayangkan cobaan apa saja yang harus ia lalui. Karena tentu di
sisinya dirimu lebih beruntung bisa melihat dunia yang juga penuh warna. Namun
tahukah bahwa keterbatasannya itulah yang kemudian menjadi semangat baginya
untuk membuktikan bahwa setiap orang adalah sosok penuh prestasi dan oleh
karenanya berhak serta wajib untuk berprestasi.
Dari
semangat seorang buta yang secara umum biasanya hanya akan dianggap sebagai
sosok kurang penting… ia mampu menggebrak dunia. Setidaknya dunianya sendiri.
Ialah Eko Ramaditya Adikara (www.ramaditya.multiply.com). Salah satu sosok yang sangat
diperhitungkan dalam perusahaan video game papan atas dunia,
Nintendo, dan salah satu IT developer profesional terkemuka
Indonesia. Dapatkah engkau bayangkan, Adikku, seorang yang tak bisa
melihat tuts keyboard komputer di depannya mampu membuat blog
dan bahkan tulisan penuh inspirasi lainnya? Bahkan ia mampu membuat gubahan
alunan musik yang indah yang juga digunakan dalam beberapa sound game-game
terkenal.
Dan masih
banyak orang-orang lain yang jika dibandingkan dirimu… mereka tak beruntung…
namun mau dan mampu mengubah keberuntungannya!
Maka…
masihkah engkau menganggap dirimu orang yang paling malang dan tak beruntung?
Sementara engkau diberi kelengkapan yang begitu sempurna? Masihkah engkau akan
mengeluh? Dan tak bertindak? Masya Allah… mari kita bersama-sama beristighfar
jika masih demikian…”
Demikian
balasan saya pada E-mailnya. Dengan sedikit harapan bahwa setidaknya ada
perubahan pada dirinya. Sedikit apapun itu asalkan menjadi lebih baik… baginya
itu adalah prestasi.
Semoga Anda
pun selalu dan harus berprestasi !!! Memberi manfaat dan menginspirasi banyak
orang!
(Sumber :
http://danangap7.multiply.com/journal/item/32)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar